Akhirnya ingat juga kalo aku punya blog di sini. Sudah 7 bulan pingin nulis baru kesampaian sekarang.
Iseng-iseng buka Google Earth, ketemu juga titik tempat aku dilahirkan (7°10′6.26″ LS dan 112°38′17.85″ BT). Ada getaran aneh ketika melihat kampung halaman dari atas. Apalagi saat tahu kampungku semakin padat. Isinya rumah, rumah, dan rumah. Tempat-tempat aku bermain dulu rupanya sudah tertindih bangunan semen itu. Mumpung masih ingat, lebih baik aku tulis di sini romantisme masa kecilku.
Aku bukan anak desa, jadi nggak ada kisah seperti Si Bolang yang kelihatannya menyenangkan itu. Aku lahir di rumah mungil yang tetap aja mungil. Bahan utamanya triplek dan sasak (sumpah aku nggak mendramatisir). Meski luas tanah cuma 10×20 m, tapi ada 4 pohon jambu (jambu air, jambu merah 2, dan jambu klutuk), 1 pohon belimbing, dan 4 pohon pete. Kebayang kan betapa mininya rumahku. Namun saat ini cuma tinggal 1 pohon jambu saja, itu pun sudah jarang berbuah, mungkin karena tidak ada yang sayang lagi (atau pengaruh global warming?). Padahal dahulu kala, pohon ini adalah “dermawan” di kampungku. Kalo sudah berbuah, satu kresek tiap hari pun terpenuhi. Pohon jambu biji yang dibelakang rumah juga sama dermawannya. Pohonnya kurus banget dan miring 45 derajat. Justru karena itu halaman belakang jadi rindang. Di bawahnya ada kendi yang biasanya dipakai Mbahku buat wudhu. Tapi tutupnya kan nggak rapat, jadi waktu aku buka ada kodok di dalamnya! Di sebelahnya ada sumur tua yang aku saja nggak ingat kapan dibuatnya. Diameternya 1,5 m tapi pinggirinnya rendah (0,5 m) tipikal sumur-sumur kuno. Makanya waktu masih kecil banget aku dilarang mendekat! tapi waktu agak gedean dikit, tiap sore aku menimba air buat menuhin bak mandi. Itu adalah salah satu hal yang paling aku rindukan. Saat ini sumurnya telah ditutup karena di sebelahnya dibangun rumah. Apalagi banyak anak kecilnya.
Kalo tentang kampungku, mending aku cerita lewat gambar aja.
Ini kampungku, Jalan Sunan Giri di kota Gresik. Dulu tanahnya masih pedel (tanah kuning) jadi kalo siang, apalagi angin kencang, seperti badai gurun. Kalo sudah gitu ibu nyiram jalan pake air got! Pokoknya biar debunya nggak kemana-mana. Nah yang dinomori itu rumah temen masa kecil: (1) rumah Ijang, (2) rumah Imam & Heri, (3) rumah Doni, (4) rumah Edi, (5) rumah Ijun, (6) rumah Aang & Yayat, (7) rumah Yoyok, (8) rumah Hajir, (9)&(10) rumah Sapar (sudah pindah lagi).
Yang dikasih angka romawi dulu lahan kosong: (I) Dulu tempat mangkal truk karena tetangga sebelah adalah juragannya. Aku masih ingat salah satu cara menyalakan mesin yaitu dengan memutar rotor mesin di depan pake besi. Aku nggak pernah lihat lagi adegan kayak gitu. Di sini juga banyak tong kosong, jadi kadang seorang anak masuk di dalamnya, terus tong digelindingkan. Hehehe makanya aku senang banget kalo lihat video klip Smashing Pumkin’s 1979. (II) Lapangan utama. Disini segala kegiatan utama berlangsung: main layangan, bentengan, sepak bola, bahkan rugby! (biasanya kalo hujan deras sekali). Di sebelahnya ada tanaman arbei legendaris yang menjadi favorit kami. Buah yang merah agak kecut tapi segar dan yang hitam manis banget karena udah masak. Kalo kebanyakan makan, lidah dan mulut jadi ungu semua. Aku nggak tau apa pohon itu masih ada, yang jelas lapangannya tinggal kenangan. (III) Sebenarnya ini udah masuk wilayah tetangga. Tapi kalo hujan biasanya ada kolam dadakan di sini. Airnya sih nggak bening-bening amat, cuma –buthek– (alias keruh banget) dan banyak sampah yang mengapung di pinggirnya. Tapi anak-anak suka, bukan cuma buat renang aja, tapi menyelam! Sekarang sudah tak terlihat sisanya. (IV) SDN Kawisanyar I & II. Tempat aku menimba ilmu demi masa depan, agar berguna bagi nusa bangsa. Saat ini namanya SDN Kawisanyar aja. Nggak perlu kuceritakan legendaku di sini deh. (V) Madrasah Ibtidaiyah Manbaul Ulum. Hehehe ingat juga namanya. Bener banget, aku dulu sekolahnya dobel. Saat ini masih banyak kok anak di kampungku yang sekolah dobel. Lokasinya tepat di belakang rumahku. Dahulu kala ini masih hutan, jadi kalo malam-malam mau ke kamar mandi, aku nggak berani. Soalnya pasti kelihatan scene itu: pohon rindang, gelap, sumur tua. Apalagi kalo kedengaran ada suara orang menimba pada malam hari, SEREEEM. (VI) Semen Gresik. Dulu daerah ini belum dipakai alias masih jadi “halaman belakang”nya Semen Gresik. Besi-besi tua maha raksasa berserakan di sini. Banyak orang Madura mencari besi dan tembaga untuk dijual. (VII) Kuburan. Tempat paling menyeramkan, hehehe.
Lebih jauh lagi, gambar kota Gresik: (A) Telaga Pegat. Tempat warga Giri mandi dan aktivitas lainnya. Ikannya galak banget, jadi banyak yang mancing di sini. (B) SLTPN 1 Gresik. Yang aku ingat adalah aku harus mengayuh sepeda ke sini. (C) SMUN 1 Gresik. Semakin besar semakin aku merindukan masa kecilku. (D) Alun-alun Kota. Kalo orang kurang kerjaan pasti ke sini. (Hehehe skeptis banget). (E) Pelabuhan Gresik. Berdiri sejak 1389 M. Berhubungan erat dengan penyebaran Islam di Gresik. Seperti diketahui ada dua makam wali songo di kota Gresik (Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri). Nah kalo bulan puasa, abis sahur tepatnya, anak-anak kadang main ke sini. Nyalain petasan, lihat kapal, atau lihat matahari terbit.
(F) Stadion Tri Dharma, tempat bertanding Gresik United. Dulunya milik tim Petrokimia Putra.
Ada juga yang namanya Bukit Hollywood. Dinamakan begitu karena ada tulisan Hollywood di alah satu tebingnya. Tulisan itu sudah ada sejak tahun 80-an. Menjadi setting film Sinar Mentari Pagi. Kalo ingin melihat sunset, di sini tempatnya.
Cukup untuk saat ini. Tulisan ini hanya sketsa. Kisah lengkapnya masih tertanam dalam hati. Kapan-kapan diurai lagi.





ya Allah fer!!! dapet dari mana tuh gambar?!!!! aku minta po’o?
fer….. blog-ku yang itu udah gak aktif. ganti yang ini….. http://www.maximampictures.wordpress.com
assalamualaikum…maaf, b;leh kenalan g?aq juga anak giri lho…
assalammualaikum….maaf mas, saya boleh minta gambar foto satelit kota gresik lebih jelas lg g mas? tolong y mas.terimakasih
aku pernah mergoki anak ini kemana2 nggendong kamera.
pagi2 dari pelabuhan gresik, trus ke aloon2.
wah ga’ nyangka….
aku suka tulisanmu bro…
aku tunggu karya2 yg istimewa lainnya
wah dadi ngilingno awakku nek duwe blog gak keurus iki Han. Kapan2 lah tak oprek blog iki.
Masa kecil?? ga nyadar kalo aq jg pernah disana. sampe lupa kalo punya masa kecil.
loh emange lahir langsung dewasa?