Transformers – Review

transformers-autobot-vs-decepticon.jpg

Film karya Michael Bay ini mulai beredar di bioskop indonesia tanggal 28 Juni 2007. Di Amrik sendiri baru diputar 3 Juli. Hal ini dilakukan oleh distributor Hollywood untuk mencegah (meminimalisir) pembajakan di Indonesia. Langkah ini pertama kali dilakukan untuk film The Day After Tomorrow beberapa tahun lalu.

Transformers (2007) dibuat berdasarkan karakter action figure buatan Hasbro. Hasbro adalah pabrik pembuat mainan yang sangat terkenal, karya terbarunya adalah senapan Spider-Man (senapan yang mengeluarkan jaring laba-laba) yang iklannya sudah muncul di tv kita. Transformer sempat diangkat menjadi serial animasi. Anak-anak generasi 90-an dapat menikmatinya di stasiun tv kala itu. Kini, kerinduan fans lama (maupun fans baru) robot-robot tempur ini dapat terobati setelah Steven Spielberg melalui studionya, Dreamworks, menunjuk Michael Bay sebagai sutradara untuk film Transformer versi live action. Michael Bay (anak emas produser Jerry Bruckheimer) adalah sineas dibalik sukses dwilogi Bad Boys, Armageddon, dan Pearl Harbour. Keputusannya untuk break sejenak bersama Jerry Bruckheimer merupakan langkah tepat menyusul kurang suksesnya karya terakhir mereka, The Island.

Lalu apa jadinya jika Bay dan Spielberg bersatu? Hasilnya adalah sebuah entertaining movie dengan slam-bang-non-stop-action di setiap adegannya. Super dahsyat! Mungkin Transformer adalah film paling popcorn tahun ini, mengalahkan trilogi Pirates of The Caribbean yang selalu menjadi film ter-popcorn tiap tahunnya. Namun setelah mereview karya-karya Bay sebelumnya, tidak ada sesuatu yang baru dalam film ini, kecuali para Transformer itu sendiri tentunya. Semua seolah telah Bay lakukan: slow motion action, slow motion profile dengan low angle yang dipanning, nuansa orange dengan menshot matahari, dll.

Before there’s a time, there was a cube

Cerita berpusat pada perburuan kubus canggih, Allspark, yang tidak sengaja terdampar di Bumi. Perburuan terjadi antara dua kubu yaitu Autobot (transformer baik) pimpinan Optimus Prime dan Decepticon (transformer jahat) yang dipimpin Megatron. Robot-robot ini memilih otomotif sebagai cara mereka menyembunyikan indentias asli. Kendaraan itu antara lain pesawat tempur F-22, heli Black Hawk, Hummer militer, truk besar 12 roda, tank, dan aneka mobil sport. Di serial tv-nya bahkan ada sebuah VW kodok, tapi tidak ditampilkan disini, mungkin karena tidak cool. Jadi siapkan mata kita untuk dimanjakan oleh transformasi yang sangat keren dari robot-robot itu.

Tagline yang berbunyi “Their war, our world” membuat manusia terjebak di tengah-tengah pertempuran robot-robot alien itu. Karakter utama Sam Witwicky (bukan Wickitty) ternyata memiliki satu-satunya kunci yang menunjukkan letak kubus Allspark di Bumi. Ia menjadi “tuan” dari BumbleBee, autobot yang pertama kali menemukan dia. Ini adalah resep standar Hollywood, seorang loser (anti-hero) menjadi leading man dan keselamatan dunia berada di pundaknya. Ia juga dikejar-kejar Sector 7, organisasi yang mengetahui rahasia Allspark dan penemu Non-Biological Extra Terestrial. Ada juga tentara pemberani yang bertahan hidup setelah teman-temannya dibantai Decepticon di Qatar. Hal ini juga seolah menjadi pakem Hollywood pasca peristiwa 11 september untuk menaikkan moral tentara US di timur tengah sana. Tidak lupa aksi one-man-show ala Mission Impossible pun ditampilkan di sini. Seperti film Michael Bay lainnya, film ini tidak lepas dari aksi ledakan di mana-mana, yang menjadikannya salah satu sutradara paling boros dalam bujet. Jika dirata-rata, satu menit adegan dalam filmnya bisa menghabiskan 2 juta dolar. Tapi film ini memiliki kasus yang sedikit mirip dengan War of The World-nya Steven Spielbeg. Yaitu kekecewaan penonton karena ending yang “cuma segitu” setelah hampir 2 jam jantung kita dibuat berdebar kencang.

Masalah lain yaitu skenario yang kurang bagus. Dialognya memang funny dan banyak adegan lucu, bahkan Bay sempat ber-garing ria yaitu ketika para Autobot mengikuti Sam ke rumahnya. Adegan yang sangat konyol. Tapi lucu bukan berarti bagus. Karakter manusia pun diulas kurang mendalam. Love chemistry yang terjadi terkesan dipaksakan dan sangat standar. Mungkin memang film ini lebih ditujukan untuk mengumbar aksi. Tapi ada juga karakter yang berhasil mencuri perhatian, yaitu Bernie Mac berperan sebagai “Uncle Bobby B, Baby” dan Jon Torturo sebagai agen Sector 7. Kelemahan lain: masa sih tidak ada orang lain yang tahu keberadaan transformer, lha wong ukurannya segede itu.

Lepas dari itu semua, Transformers adalah film yang sangat layak untuk ditonton bagi mereka yang mencari hiburan penuh aksi. Beberapa “makhluk”-nya Spielberg dimunculkan di sini. Ada miniatur T-Rex dan mobil box dengan gambar Gremlins. Endingnya dibuat sedikit menggantung, untuk antisipasi sekuel yang mungkin dirilis tahun 2009. Dasar Hollywood.

Studio : Paramount dan Dreamworks

Sutradara : Michael Bay

Produser Eksekutif : Steven Spielberg

Skenario : Roberto Orci & Alex Kurtzman

Durasi : 144 menit

Pemain :

  • Shia LaBeouf ….. Sam Witwicky
  • Megan Fox ….. Mikaela Banes
  • Josh Duhamel ….. Sergeant Lennox
  • Tyrese Gibson ….. Sergeant Epps
  • John Voight ….. Defence Secretary
  • John Turturro ….. Agent Simmons
  • Bernie Mac …… Bobby Bolivia
  • Hugo Weaving ….. Megatron
Iklan

One thought on “Transformers – Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s