(bukan lagi) Ayat-Ayat Cinta

Banyak nada kecewa yang terlontar dari penonton setelah melihat Ayat-Ayat Cinta versi bioskop. Sebagian besar mengeluhkan ketidaksamaan film dengan novelnya. Sekali lagi dilema adaptasi. Masalah adaptasi memang tak akan pernah habis untuk dibahas. Apalagi yang diadaptasi adalah novel peraih penghargaan yang dipuja banyak kalangan. Filmaker selalu menjelaskan bahwa novel dan film adalah medium yang sangat berbeda. Cara menikmati sebuah novel tidak sama dengan cara menikmati sebuah film. Novel itu begini, film itu begitu, dan seterusnya. Beberapa pihak menyarankan, sebelum menonton film Ayat-Ayat Cinta, buanglah segala ingatan mengenai novelnya. Tentu saja, bagi sebagian orang itu sangat sulit dilakukan. Lalu apa sih hal-hal yang membuat para penonton itu mencak-mencak?

AAC

Persoalan biaya membuat syuting dipindah ke India dan Semarang! Masalah pertama pun muncul. Kita tidak akan melihat eksotisnya negeri padang pasir yang menjadi setting utama film ini. Memang ada beberapa shot yang menampilkan piramida, unta, dan segala yang berbau Mesir. Namun untuk sedikit sarkasme: “Bisa aja kan shot-shot itu diambil dari stok National Geographic.” Setting pun banyak yang interior. Jadi film ini seperti sinetron layar lebar (tapi jauh lebih baik). Akibatnya penonton tidak bisa menyatu dengan Fahri dalam merasakan suka duka berjuang di Al Azhar: udara panas, badai pasir, sengatan matahari.

Lalu, visi. Setelah rumah produksi membeli hak cipta novel Ayat-Ayat Cinta untuk difilmkan, Hanung Bramantyo sang sutradara sesungguhnya “tidak ada gunanya” bertemu dengan sang pengarang novel, Habiburrahman El Shirazy. Karena sang sutradara cukup memvisualisasikan “karya” Salman Aristo dan Ginatri S. Noer sang penulis skenario. Visi, jelas berbeda karena karya itu sudah melewati beberapa orang. Dan itu sah-sah saja. Ambil contoh cerpen Stephen King yang berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Frank Darabont mengobrak-abrik, membongkar-pasang cerita itu menjadi skenario yang benar-benar baru, kemudian memfilmkannya. The Shawshank Redemption, judul film itu, menjadi satu film yang sangat berpengaruh jauh melebihi cerpen aslinya. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Ayat-Ayat Cinta. Para penonton ingin menonton novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy, bukan film Ayat-Ayat Cinta-nya Hanung Bramantyo. Dan seharusnya para filmaker yang terlibat tahu akan hal itu. Film yang menjiplak habis dari novelnya juga bukan tindakan yang salah. Bukti konkret adalah film-film Harry Potter yang tetap digandrungi, dan para kritikus pun tidak menghujat dengan alasan terlalu mirip novelnya.

Poligami?

Tokoh utama film Ayat-Ayat Cinta adalah Fahri (Fedi Nuril), anak kampung yang bersekolah di Al Azhar. Luar dalamnya seperti Nabi Yusuf sehingga dipuja banyak perempuan. Maria (Carissa Puteri), tetangga di flat atas sangat suka bahkan menimbun cinta padanya. Gadis kristen koptik yang cerdas dan ceria ini bahkan menyebut Fahri sebagai “Mesirku”. Pesona, kebaikan, dan ilmu agama yang ada pada diri Fahri mampu memikat Nurul (Melanie Putria), Noura (Zaskia Adya Mecca), dan Aisha (Rianti R. Cartwright). Namun hanya Aisha yang mampu memikat hati Fahri. Rasa cemburu dan patah hati berlilit di sepanjang kisah dan membawa Fahri ke proses pengadilan Mesir. Di penjara yang biasa saja itu (padahal di novel penggambaran penjara dan perlakuan penjaga begitu kejam), Fahri ternyata satu kamar dengan…. orang gila! Di mana profesor dan guru besar yang disebutkan dalam novel? Apakah menggantinya dengan karakter yang sama sekali berbeda, Hanung ingin menunjukkan bahwa: kita bisa belajar dari SIAPA SAJA? Itukah yang ingin filmaker tunjukkan?

Pada scene awal sebelum judul muncul di layar, adegan yang ditampilkan sangat komedik dan musik yang mengiringi pun mendukung suasana tersebut. Saya sempat was-was jangan-jangan ini akan menukik menjadi kisah komedi, syukurlah tidak. Secara garis besar kisah film Ayat-Ayat Cinta memang tidak berubah. Namun ada satu perubahan yang cukup fatal. Menjelang akhir kisah, Maria seharusnya mengalami kejadian yang sangat religius. Tapi ternyata filmaker tidak menampilkan kejadian itu. Apakah karena terlalu religi? Mereka bahkan menggantinya dengan adegan yang lebih bersifat sosial, yaitu poligami. Habiburrahman El Shirazy yang menonton adegan ini pasti juga bertanya-tanya, mau di bawa kemana kisah ini? Memang setelah polemik homoseksual, kini problematika poligami dan isu gender yang sedang marak untuk diangkat melalui media film. Namun itu bukan alasan bagi Hanung untuk latah dengan mengangkat isu poligami.

Setelah menyaksikan film secara keseluruhan, saya kecewa. Saya tidak melihat ayat-ayat cinta di film ini. Saya tidak mendengar ayat-ayat cinta di film ini. Memang gadis Mesir itu masih bernama Maria. Memang judul film ini masih Ayat-Ayat Cinta, tapi saya tidak menemukannya. Novel Pembangun Jiwa itu gagal diangkat menjadi Sinema Pembangun Jiwa.

AAC

Ayat-Ayat Cinta (2008)
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis Skenario : Salman Aristo & Ginatri S. Noer
Adaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy
Pemain : Fedi Nuril, Rianti R. Cartwright, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca, Carissa Puteri.

Iklan